piringatan 40 hari GUS DUR

Februari 11th, 2010 by ahmadmunif

Lamongan - Mantan Presiden RI, almarhum KH Abdurrahman Wahid atau yang biasa dipanggil Gus Dur ternyata tidak hanya mempesona bagi manusia saja. Ternyata, bangsa jin juga kagum dengan sosok Gus Dur.

Kurang lebih seribu jin, Kamis (11/2/2010) malam ini menggelar doa bersama dalam peringatan 40 hari meninggalnya Gus Dur, di Pondok Pesantren Dzikrussyifa’ Asma Berojomusti, yang ada di Jalan Raya Sekanor, Desa Sendangagung, Kecamatan Paciran, Lamongan.

Acara doa bersama seribu jin ini dipimpin oleh pengasuh Ponpes Dzikrussyifa’ Asma Berojomusti sendiri, yaitu KM Muzakkin.

Muzzakin menuturkan, dirinya bersama seribu jin ini memang khusus menggelar doa yang ditujukan khusus bagi Gus Dur. “Saya dan seribu jin ini menganggap bahwasanya Gus Dur memang layak untuk mendapatkan doa dari semua kalangan dan semua mahluk,” tuturnya.

Muzzakin yang santrinya khusus bangsa jin ini lebih jauh menuturkan, seribu jin yang kalau digambarkan bisa dalam berbagai bentuk ini akan memulai acara doa bersamanya selepas salat Isya. dan rencananya akan dilangsungkan semalam suntuk hingga fajar menyingsing.

Muzzakin menambahkan, Gus Dur memang layak untuk mendapatkan doa dari semua kalangan dan makhluk tidak hanya dari sesama manusia saja. “Karena Gus Dur adalah auliya Allah, wali Allah dan juga ulama yang kesalehanya sangat patut kita teladani,” pungkasnya.

komunitas (SMART)

Februari 9th, 2010 by ahmadmunif

bagi komunitas Hp CDMA khususnya SMART di desa kami tercinta memeng benar-benar membantu para pengguna-nya,selain hemat juga bisa menghemat waktu bagi yg sibuk ter-utma bagi teman-teman yang sudah mempunyai p.c maupun laptop,dengan di dukung sinyal yang baik bahkan amat sangat baik,bahkan tidak mau kalah dengan (warnet) yang sebenarnya sudah tersedia di sekitar meskipun dengan alat yang sederhana tidak mau kalah dengan dengan yang linnya.

BIOGRAFI SINGKAT 3 TOKOH PENDIRI DAN PENERUS PONDOK PESANTREN LIRBOYO KEDIRI

Februari 6th, 2010 by ahmadmunif

KH. ABDUL KARIM

Beliau dilahirkan pada tahun 1856, di sebuah desa terpencil bernama Diyangan Kawedanan Mertoyudan Magelang Jawa Tengah. Nama kecil beliau adalah Manab, beliau putra ketiga dari empat bersaudara, dari pasangan Kyai Abdur Rahim dan Nyai Salamah. Pada saat Manab kecil berusia 14 tahun, mulailah beliau melakukan pencarian ilmu agama, daerah pertama yang beliau tuju adalah desa Babadan Gurah Kediri, lantas beliau meneruskan pengembaraannya di daerah Cepoko, 20 km arah selatan Nganjuk, beliau menuntut ilmu kurang lebih selama 6 Tahun. Selanjutnya pindah lagi ke Pesantren Trayang, Bangsri, Kertosono Nganjuk Jatim, disinilah beliau memperdalam pengkajian ilmu Al-Quran, beberapa tahun kemudian beliau teruskan pengembaraannya dalam tholabul ilmi di Pesantren Sono sebelah timur Sidoarjo, sebuah pesantren yang terkenal dengan ilmu Shorofnya, tujuh tahun lamanya beliau menuntut ilmu di Pesantren ini. periodenya selanjutnya beliau meneruskan nyantri di Pondok Pesantren Kedungdoro Sepanjang Surabaya, hingga akhirnya beliau meneruskan pengembaraan ilmunya di salah satu pesantren besar di pulau Madura yang diasuh oleh seorang Ulama’ Kharismatik bernama, Syaikhona Kholil Bangkalan. Cukup lama beliau menuntut ilmu dimadura yakni sekitar 23 tahun, begitu lamanya beliau menuntut ilmu sehingga menjadikan kemampuan beliau menjadi sangat terasah dan mumpuni.

Pada saat berusia 40 tahun, KH. Abdul Karim meneruskan pencarian ilmunya di Pondok Pesantren Tebu Ireng Jombang Jatim, yang diasuh oleh sahabat karibnya semasa di Bangkalan Madura, KH. Hasyim Asy’ari. Hingga pada suatu ketika KH. Hasyim asy’ari menjodohkan KH. Abdul Karim dengan putri Kyai Sholeh dari Banjarmlati Kediri, akhirnya pada tahun1328 H/ 1908 M, KH. Abdul Karim menikah dengan Siti Khodijah Binti KH. Sholeh, yang kemudian dikenal dengan nama Nyai Dlomroh, dua tahun kemudian KH. Abdul karim bersama istri tercinta hijrah ketempat baru, disebuah desa terpencil yang bernama Lirboyo tepatnya pada tahun 1910 M, disinilah titik awal tumbuhnya Pondok Pesantren Lirboyo. Kemudian pada tahun 1913, KH. Abdul karim mendirikan sebuah Masjid ditengah-tengah komplek pondok, sebagai sarana ibadah dan sarana ta’lim wa taalum bagi santri. Secara garis besar Pribadi KH. Abdul karim adalah sosok yang sangat sederhana dan bersahaja, beliau gemar melakukan Riyadlah mengolah jiwa atau Tirakat, sehingga hari-hari beliau hanyalah berisi pengajian dan tirakat saja. Pada tahun 1950-an, tatkala KH. Abdul Karim menunaikan ibadah haji yang kedua kalinya setelah beliau melaksanakan ibadah haji pada tahun 1920-an, kondisi kesehatan beliau sebenarnya sudah tidak memungkinkan, namun karena keteguhan hati akhirnya keluarga mengikhlaskan kepergiannya untuk menunaikan ibadah haji, dengan ditemani sahabat akrabnya KH. Hasyim Asy’ari dan seorang dermawan asal Madiun H. Khozin.

Sosok KH. Abdul Karim adalah sosok yang sangat istiqomah dan berdisiplin dalam beribadah, bahkan dalam segala kondisi apapun dan keadaan bagaimanapun, hal ini terbukti tatkala beliau menderita sakit, beliau masih saja istiqomah untuk memberikan pengajian dan memimpin sholat berjamaah, meski harus dipapah oleh para santri. Mendung kedukaan menggelayut menaungi Lirboyo, Kepada Allah lah, sejatinya semua mahluk akan kembali, pada tahun 1954, tepatnya hari senin tanggal 21 Ramadhan 1374 H, KH. Abdul Karim berpulang kerahmatullah, beliau dimakamkan di belakang masjid Lirboyo.

KH. MARZUQI DAHLAN

Beliau lahir pada tahun 1906, di Desa Banjarmlati sebuah desa kecil di tepi sungai brantas Kota Kediri, beliau putra bungsu dari empat bersaudara, dari pasangan KH. Dahlan dan Nyai Artimah. Dibawah pengawasan langsung kakeknya KH. Sholeh Gus Zuqi kecil menerima pengajaran dasar-dasar islam seperti aqidah dan fiqh ubudiyah, tatkala menginjak usia remaja, ayahnya Kyai Dahlan meminta agar Gus Zuqi kembali ke kampung halamannya Pondok Pesantren Jampes, untuk menuntut ilmu dibawah asuhan ayah kandungnya sendiri, Gus Zuqi bersedia namun beberapa saat kemudian Gus Zuqi justru kembali ke Banjarmlati untuk menuntut ilmu disana, ketika Gus Zuqi beranjak muda, beliau pindah menuntut ilmu Di Lirboyo dibawah asuhan pamannya KH. Abdul Karim. Disinilah kemampuan berpikir Gus Zuqi semakin terasah, sehingga dalam waktu yang singkat beliau dapat memperoleh ilmu, dibawah pengawasan langsung KH. Abdul Karim. Usai menuntut ilmu di Lirboyo, Gus Zuqi meneruskan pengembaraannya di pelbagai Pondok Pesantren diantaranya Pondok Pesantren Tebu Ireng asuhan Hadlratus Syaikh KH. Hasyim Asy’ari, Pondok Pesantren Mojosari Nganjuk, Pondok Pesantren Bendo Pare asuhan Kyai Khozin, cukup lama beliau mondok di Pare hingga beliau berumur 20-an tahun, selanjutnya beliau kembali ke kampung halamannya Jampes untuk belajar langsung ke kakaknya yakni KH. Ihsan Al-Jampasy, pengarang kitab Monumental Shirojut Tholibin dan sosok yang menguasai bidang Tashawuf.

Pada tahun 1936, KH. Marzuqi Dahlan menikah dengan Nyai Maryam binti KH Abdul Karim, namun meski telah menikah, semangat beliau dalam mengaji tidak pernah luntur sedikitpun, hal ini merupakan salah satu amanat yang telah disampaikan oleh KH Abdul karim pada KH. Marzuqi Dahlan sesaat usai aqad nikah berlangsung, sehingga himmah beliau untuk terus mendidik santri terus terjaga dan sangat istiqomah. Hingga pada tahun 1961 tahun Nyai Maryam berpulang ke Rahmatullah, meninggalkan beliau untuk selama-lamannya. Namun untuk menghapus kedukaan yang berlarut-larut, akhirnya keluarga menikahkan KH. Marzuqi Dahlan dengan Nyai Qomariyah yang tak lain adalah adik bungsu Nyai Maryam. Sosok KH. Marzuqi Dahlan adalah sosok sederhana dan sangat bersahaja hal ini terbukti dari penampilan beliau sehari-hari yang jauh dari kesan mewan dan elegan, padahal pada saat itu beliau sudah menjadi pengasuh Pondok Pesantren Lirboyo, hari-hari beliau hanyalah ditemani sepeda onthel usang sebagai pengantar ketika berziarah kemaqam Auila’ disekitar Kediri, bukan hanya kendaraan kediaman beliaupun terbilang sangat sederhana, yakni berdindingkan anyaman bambu, hingga pada tahun 1942 barulah keiaman beliau beganti dengan tembok.

Pada Tahun 1973 M. KH. Marzuqi Dahlan menunaikan Ibadah haji, dua tahun usai menunaikan ibadah haji, kondisi beliau mulai terganggu, hal ini bisa dimaklumi karena usia beliau yang sudah sepuh, namun meski demikian semangat beliau untuk memimipin Pesanten Lirboyo tetap terjaga, hingga pada bulan syawal pada tahun 1975, beliau jatuh sakit sehingga harus dirawat di RS. Bayangkara kediri hingga 2 minggu lamanya beliau harus dirawat. Karena tidak ada perubahan yang menggembirakan, akhirnya keluarga memutuskan untuk membawa pulang KH. Marzuqi Dahlan ke kediaman beliau, hingga pada hari Senin Tanggal 18 Nopember 1975 beliau dipanggil sang pencipta, dihadapan keluarga dan para santri yang sangat mencintainya.

KH. MAHRUS ALY

Beliau lahir pada tahun 1906 di dusun Gedongan kecamatan Astanajapura, Kabupaten Cirebon Jawa Barat, ayah beliau KH Aly bin Abdul Aziz dan ibu beliau Hasinah binti Kyai Sa’id, KH. Mahrus Aly adalah anak bungsu dari sembilan bersaudara. Masa kecil beliau dikenal dengan nama Rusydi, masa kecil beliau lebih banyak dijalani di tanah kelahirannya, sifat kepemimpinan beliau sudah nampak pada saat masih kecil, hingga beranjak remaja, sehari-hari beliau menuntut ilmu di surau pesantren milik keluarganya, disinilah beliau diasuh oleh ayahnya sendiri KH Aly dan kakak Kandungnya Kyai Afifi. Pada saat beliau berusia 18 tahun, beliau melanjutkan pencarian ilmunya di Pesantren Panggung Tegal, asuhan Kyai Mukhlas Kakak iparnya sendiri, disinilah kegemaran belajar ilmu Nahwu KH. Mahrus Aly semakin teruji dan mumpuni, selain itu KH. Mahrus Aly juga belajar silat pada Kyai Balya seorang jawara pencak silat asal Tegal Gubug Cirebon. Pada saat monok di tegal inilah KH. Mahrus Aly menunaikan ibadah haji pada tahun 1927, selanjutnya KH. Mahrus Aly meneruskan pencarian ilmunya di Pesantren Kasingan Rembang Jawa Tengah yang diasuh KH. Kholil, setelah 5 tahun menuntut ilmu dipesantren ini atau sekitar tahun 1936 KH. Mahrus Aly berpindah menuntut ilmu di Pondok Pesantren Lirboyo Kediri, karena sudah punya bekal ilmu yang mumpuni sehingga KH. Mahrus Aly tinggal mempedalam dan tabaruqan saja, bahkan beliau diangkat menjadi Pengurus Pondok. Selama nyantri di Lirboyo beliau dikenal sebagai satri yang tak pernah letih mengaji, jika waktu libur tiba maka akan beliau gunakan untuk tabaruqan dan mengaji di Pesantren lain, seperti Pondok Pesantren Tebu Ireng Jombang, asuhan KH. Hasyim Asy’ari. PP. Watu congol muntilan Magelang, asuhan Kyai Dalhar. Juga pondok pesantren Langitan tuban, Sarang dan Lasem Rembang.

Sebenarnya KH. Mahrus Aly mondok di Lirboyo tidaklah lama, hanya sekitar tiga tahun saja, namun karena kealimannya membuat KH. Abdul Karim menjadi jatuh hati, dan menjodohkannya dengan salah seorang putrinya yang bernama Zaenab. Tepatnya pada tahun 1938. kemudian pada tahun 1944 KH. Abdul karim mengutus KH. Mahrus Aly untuk membangun kediaman disebelah timur Komplek Pondok. Sepeninggal KH. Abdul Karim, KH. Mahrus Aly bersama KH. Marzuqi Dahlan meneruskan estafet kepemimpinan Pondok Pesantren Lirboyo, ditangan mereka berdualah kemajuan pesat dicapai oleh Pondok Pesantren Lirboyo, banyak santri yang berduyun-duyun untuk menuntut ilmu dan mengharapkan barokah dari KH. Marzuqi dahlan dan KH. Mahrus Aly, bahkan ditangan KH. Mahrus Aly lah, pada tahun 1966 lahir sebuah perguruan tinggi yang bernama IAIT (Institut Agama Islam Tribakti), peran serta KH. Mahrus Aly dalam usaha membangkitkan kemerdekaan juga tidak bisa diremehkan, hal ini disebabkan peran beliau dalam mengirimkan 97 santri pilihan dari pondok pesantren Lirboyo untuk menumpas sekutu di Surabaya, yang belakangan ini dikenal dengan peristiwa 10 November, hal ini juga yang menjadi embrio berdirinya Kodam V Brawijaya. Selain itu KH. Mahrus Aly juga berkiprah dalam penumpasan PKI di daerah kediri dan juga mempunyai andil yang besar dalam perkembangan Jamiyyah Nahdlotul Ulama’, bahkan beliau diangkat menjadi Rois Syuriyah Jawa trimur selama hampir 27 Tahun, hingga akhirnya diangkat menjadi anggota Mutasyar PBNU pada tahun 1985

Duka menggelayut Pondok Pesantren Lirboyo tepatnya pada hari senin tanggal 04 Maret 1985, sang istri tercinta Ibu Nyai Hj. Zaenab berpulang kerahmatullah karena sakit Tumor kandungan yang telah lama nyai derita. Sejak saat itulah kesehatan KH. Mahrus Aly mulai terganggu, bahkan banyak yang tidak tega melihat KH. Mahrus Aly terus menerus larut dalam kedukaan, hingga banyak yang menyarankan agar KH. Mahrus Aly menikah lagi supaya ada yang mengurus beliau, namun dengan sopan beliau menolaknya. Hingga puncaknya yakni pada sabtu sore pada tanggal 18 mei 1985 kesehatan beliau benar-benar terganggu, bahkan setelah opname selama 4 hari di RS Bayangkara Kediri akhirnya beliau dirujuk ke RS Dr. Soetomo Surabaya dengan menggunakan Helikopter atas perintah Pangab LB. Moerdani, manusia berusaha namun Allah Jualah yang menentukan, meskipun pelbagai upaya medis paling canggih sekalipun telah diupayakan oleh tim dokter yang terbaik di RS Dr. Soetomo surabaya, akhirnya KH. Mahrus Aly berpulang kerahmatullah, tepatnya pada Hari Ahad malam Senin Tanggal 06 Ramadlan 1405 H/ 26 Mei 1985, tepat delapan hari setelah beliau dirawat di surabaya. Berita meninggalnya KH. Mahrus Aly membuat duka yang sangat mendalam bagi keluarga besar Pondok Pesantren Lirboyo, karena mereka semua telah kehilangan panutan yang selama ini mereka idolakan dan mereka bangga-bangakan. Beliau wafat diusia 78 tahun.

pengetahuan spiritual

Februari 6th, 2010 by ahmadmunif

KAMIS, 24 Desember 2009, Gus Dur berkunjung ke Rembang, menemui sahabat terdekatnya yang juga paman saya, Kiai Mustofa Bisri. Seperti biasa, saya pun ikut menemui. Di ruang tamu paman saya siang itu, tiga orang menemaninya mengobrol: paman saya, saya, dan Kiai Manshur Hafidh, adik salah seorang sahabat lama Gus Dur yang belum lama meninggal, Kiai Wahab Hafidh.

Bu Nur (Ibu Shinta Nuriyah), di pojok lain ruangan yang luas itu, mengobrol dengan Bulik Siti (Ibu Siti Fatmah, istri paman saya) dan Pakde Kih (Kiai Faqih Kusuma, paman saya yang lain) yang merupakan teman sekolah beliau di Jogja dulu.

Para pendherek yang lain duduk agak menjauh dari beliau berdua, termasuk -di antara yang saya kenali- Aris Junaidi (Kudus) dan Gus Hayatun (Jepara). Sulaiman, pembantu pribadi Gus Dur yang nyaris tak pernah lepas dari sisi beliau, bahkan nongkrong di emperan rumah bersama para ajudan, polisi-polisi, dan banyak orang lain yang tidak begitu saya kenal.

Berbicara dengan suara lemah, hampir berbisik, saya yakin tak ada selain kami bertiga (saya, Kiai Mustofa, dan Kiai Manshur) yang bisa mendengar pembicaraan Gus Dur.

Di antara yang saya ingat benar tentang hari itu adalah kisah Gus Dur mengenai mimpi seseorang. Rincian mimpi itu sendiri tidaklah terlalu penting. Sebab, -saya tahu- itu hanyalah intro, pintu masuk bagi Gus Dur untuk mengatakan apa yang ingin beliau katakan. Yang beliau katakan adalah penafsiran beliau atas mimpi itu:

”Kalau soal syari’at dan akhlaq, imamnya Mbah Hasyim (Asy’ari). Tapi, kalau soal politik, imamnya saya… harus ikut saya…”

Terus terang, saya tergetar mendengarnya. Saya paham betul, ungkapan tersebut beliau tujukan langsung kepada saya. Beliau tahu, hanya kami bertiga yang duduk mendekat dan mendengar pembicaraan beliau. Beliau juga tahu benar, hanya sayalah mustahiqqul khithob (yang patut disasar) dengan ungkapan itu. Paman saya dan Kiai Manshur jelas-jelas bukan orang politik dan mereka berdua tidak pada kedudukan ”di bawah perintah Gus Dur” seperti saya.

Bagaimana saya memahami ”perintah” itu?

Terus terang, mulanya sepintas saya mengira beliau memerintah saya bergabung dengan PKB versi Muktamar Parung, menyertai Yenny, putri beliau. Tapi, Gus Dur wafat tepat seminggu kemudian.

Setelah saya renung-renungkan kembali keseluruhan pembicaraan beliau hari itu, cara beliau mengatakannya, pilihan-pilihan ungkapan beliau, air muka beliau, dan suaranya yang beliau bangkitkan, saya merasa mendapati pertanda-pertanda bahwa segala perkataan beliau hari itu adalah ucapan-ucapan seseorang yang telah memendam firasat. Lebih-lebih setelah saya dengar pula kisah Nyai Sholihati (ibunda Saifullah Yusuf) dan cerita Gus Irfan (putra Gus Sholah) perihal keadaan beliau sesampai di Jombang setelah dari Rembang.

Nyai Sholihati menceritakan, betapa di tengah perjalanan menuju rumah sakit di Surabaya, tiba-tiba Gus Dur ngotot minta kembali ke Jombang karena hendak berziarah ke makam ibundanya, Nyai Sholihah Wahid. Sedangkan Gus Irfan menceritakan ucapan Gus Dur sebelum itu:

”Tanggal 31 nanti saya ke sini lagi!” (Kamis, 31 Desember 2009, adalah hari pemakaman beliau).

Karena itu, saya pun memperoleh ‘’sudut pandang baru” yang saya rasa lebih tepat. Pemahaman saya dari sudut pandang baru itu adalah sebagai berikut:

Dengan mengatakan, ”Kalau soal syari’at dan akhlaq, imamnya Mbah Hasyim (Asy’ari)”, Gus Dur menegaskan bahwa beliau tidak pernah berpretensi menjadi panutan dalam hal syari’at dan akhlaq. Lebih-lebih bagi warga NU, panutan itu telah tetap: Hadlratusy Syekh Hasyim Asy’ari, Rais Akbar, pendiri Nahdlatul Ulama, tak ada yang lain. Sebaliknya, beliau jelas-jelas minta diikuti dalam hal politik. Masalahnya, ”ikut” yang seperti apa?

Saya yakin, Gus Dur tidak bermaksud memerintah saya bergabung dengan PKB Parung. Bukan saja karena keyakinan bahwa ungkapan beliau itu dinyatakan dalam bayang-bayang firasat, tapi juga karena saya kemudian teringat riwayat hubungan saya dengan Gus Dur sendiri selama ini.

Saya pernah teramat dekat dengan beliau. Yaitu, sejak saya ditunjuk menjadi salah seorang juru bicara kepresidenan. Tapi, pada putaran berikutnya, saya menentang keputusan-keputusan beliau berupa pemecatan-pemecatan dalam PKB, termasuk dan terutama pemecatan Saifullah Yusuf.

Secara politik, Gus Dur tak penah mengampuni penentangan-penentangan saya itu, meskipun secara pribadi hubungan kami tak pernah berubah. Gus Dur tahu benar alasan-alasan saya sebagaimana telah saya sampaikan kepada beliau dan memahami cara berpikir saya.

Dari situ, saya percaya bahwa beliau tidak akan memerintah saya bergabung dengan PKB Parung karena beliau pasti tahu, itu sia-sia. Gus Dur tahu, saya dulu menentang pemecatan-pemecatan tersebut karena mengkhawatirkan perpecahan dan saya selalu dalam posisi mendambakan penyatuan.

Dulu, saya ikut kelompok kiai-kiai Langitan memisahkan diri dari Muktamar Semarang karena saya berharap dapat mengajak beliau-beliau mempersatukan PKB kembali. Bahwa kemudian saya gagal, itu adalah soal batas kemampuan, bukan soal sikap atau keinginan.

Sementara itu, bila melihat konteks keseluruhan ungkapan beliau, yaitu membandingkan imaamah (kepemimpinan) Mbah Hasyim dalam hal syari’at dan akhlaq dengan imaamah beliau sendiri dalam hal politik, berlakukah kaidah balaghah (seni wicara) bahwa perbandingan atau persamaan antara dua perkara atau lebih haruslah merujuk pada matra-matra yang setara di antara perkara-perkara yang diperbandingkan atau dipersamakan itu.

Gus Dur menjunjung keharusan mengikuti kepemimpinan Mbah Hasyim, sedangkan Mbah Hasyim sudah lama wafat. Mbah Hasyim tak mungkin lagi memberikan perintah-perintah langsung, tak mungkin lagi memberikan perintah-perintah operasional. Maka, yang diharuskan adalah mengikuti mazhab beliau, menjadikan ajaran-ajaran beliau sebagai acuan untuk menyikapi hal-hal kekinian.

Ketika pengertian itu diterapkan pada ”keharusan mengikuti Gus Dur dalam politik”, ia hanya memiliki relevansi pada matra-matra yang setara. Yaitu, bahwa Gus Dur tidak memaksudkan kewajiban mengikuti ”perintah-perintah operasionalnya”, melainkan mazhabnya, haluan politiknya, nilai-nilai yang diajarkannya, ideologinya!

Elemen-elemen ajaran politik Gus Dur, antara lain, pluralisme, moderasi, toleransi, keadilan, kejujuran, kerakyatan, dan apa yang secara oversimplified ingin saya sebut ”Soekarnoisme revisionis”: cita-cita Soekarno dengan revisi strategi.

Sebagaimana halnya ajaran-ajaran syari’at dan akhlaq dari Mbah Hasyim harus terus-menerus dipelajari untuk memperoleh pemahaman yang semakin mendalam, demikian pula ajaran-ajaran Gus Dur. Meski telah begitu banyak orang menguliti pemikiran-pemikiran Gus Dur, pastilah masih tersisa bergudang-gudang nuansa dan mutiara-mutiara gagasan beliau yang memerlukan kajian lebih lanjut untuk kemudian direkonstruksi menjadi suatu bangunan paradigma yang sistematis.

Inikah wasiat untuk saya? Seandainya iya, pastilah saya sudah pingsan tak bangun-bangun karenanya. Untung saya kemudian teringat sebuah riwayat penting. Bertahun-tahun yang lalu, pada 1980-an, saya sowan kepada Kiai Abdullah Salam (pamanda Kiai Sahal Mahfudh) di Kajen, Pati. Waktu itu beliau berkisah tentang guru beliau, Kiai Hasyim Asy’ari.

”Kiai Hasyim itu kelihatannya kaya raya,” beliau bercerita, ”Tanah pesantrennya luas, ada mobil, ada sawah-ladang, dan sebagainya. Tapi, ketika wafat, ternyata tidak satu pun di antara kekayaan-kekayaan itu dapat diwariskan karena semua itu adalah harta wakaf. Sedangkan yang menjadi harta milik pribadi beliau hanyalah sebuah gentong dengan siwurnya yang biasanya digunakan untuk memandikan mayat!”

Teringat riwayat itu, saya pun teringat pula pada satu kaidah syari’at: ‘’segala yang tak bisa diwariskan tak bisa diwasiatkan”.

Maka, saya pun merasa tenteram. Gus Dur tidak mungkin mewasiatkan apa pun yang bukan harta milik pribadinya kepada siapa pun, apalagi mewariskannya. Di sisi lain, saya yakin bahwa segala pemikiran, ajaran, dan tindakan keteladanan beliau telah beliau maksudkan sebagai wakaf kepada seluruh bangsa Indonesia dan kemanusiaan. Maka, tidak satu pun di antara semua itu, termasuk PKB, bahkan nama besar beliau sendiri, yang dapat menjadi objek wasiat, apalagi waris!

Saya merasa tenteram karena tugas yang mahadahsyat itu tidak diwasiatkan (hanya) kepada saya. Barangkali saja karena teringat bahwa saya pernah menjadi juru bicara beliau, beliau berharap suatu ketika saya akan menyampaikan ungkapan beliau itu kepada orang banyak, seperti ikhtiar saya dengan tulisan ini.

cara menjadi sehat

Februari 5th, 2010 by ahmadmunif

makan secukupnya

Halo dunia!

Februari 5th, 2010 by ahmadmunif

Selamat Datang Blogdetik.com. Ini merupakan postingan pertama Anda. Silahkan Edit atau hapus postingan ini, dan mulai ngeblog!